BIOGRAFI TOKOH PENDIDIKAN
IMAM MUSLIM
BIN AL-HAJJAJ AN- NAISABURI
Oleh :
Nama :
Moh. Mahyuddin
NIM : 110083
Kelas/Semester :
C/III
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PATI
STAI PATI
2016
I. Pendahuluan
Pendidikan Islam adalah suatu sarana atau alat
untuk mengetahui Islam lebih jauh. Dengan pendidikan Islam kita sebagai seorang
muslim sudah seharusnya mempelajari pendidikan islam. Di sekitar kita banyak
sekali masyarakat muslim tetapi mereka sekarang terlena dengan modernisasi yang
telah menghilangkan jati diri seorang muslim.
Pendidikan islam tidak muncul begitu saja di
dunia, tetapi melalui pemikiran-pemikiran para pemikir Islam yang mengembangkan
Islam. Salah satu dari ribuan pemikir Islam itu adalah Imam Muslim (Muslim
al-Hajjaj an-Naisaburi0 salah satu dari Imam besar Islam.
II. Pembahasan
Nama lengkapnya adalah Muslim bin Hajjaj bin
Muslim bin Wardi bin Kawisyadz al-Qusyairi an-Naisaburi. Nama panggilannya
adalah Abul Husain. Dia adalah imam besar, hafidz, menjadi hujjah dan shodiq 9
berlaku benar).
Kelahirannya: adz-Dzahabi berkata,”Imam Muslim
lahir pada tahun 204 h dan aku mengira dia lahir sebelum tahun tersebut.”[1] Imam
Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama
lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al
Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia,
dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an Nahr,
artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia
Tengah.
Sifat-sifatnya: al-Hakim berkata,”aku telah
mendengar Abdurrohman As-Sulami berkata,”Aku pernah melihat seorang syaikh yang
wajah dan pakaianya rapai dan bagus. Orang tersebut mengenakan selendang di
pundak dan sorban dengan kedua ujungnnya di biarkan menjulur di antara kedua
pundaknya sehingga dia tampak agung. Orang berkata, bahwa orang itu adalah Imam
Muslim.
Setelah mendengar berita itu, para pejabat
pemerintah menyongsongnya. Mereka berkata, “amirul mukminin telah memerintahkan
agar imam muslim bin hajjaj menjadi imam sholat kaum muslimin.” Lalu mereka pun
mengiring imam muslim masuk ke masjid Jami’ untuk bertakbir Sholat bersama-sama
manusia.”[2]
al-Hakim juga berkata,” aku telah mendengar
ayahku berkata, “ aku telah melihat Imam Muslim bin al-Hajjaj memberikan hadis di
daerah Khan Makhmasy. Dia berbadan tinggi, rambut dan jenggotnya sudah memutih,
sedangkan kedua ujung sorbannya di biarkan terurai di antara kedua p-undaknya.”[3]
Pemikiran
Imam Muslim
Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam
bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya,
Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan
nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena
prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa
sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih karya
Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah,
syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.
Imam an-Nawawi secara ringkasnya berkata, “imam
muslim dalam mencantumkan hadis-hadis dalam kitab karangannya Ash-Shahih
menempuh jalan yang sangat cermat, teliti, wira’I dan disertai pengetahuan yang
dalam dibidang hadis.
Cara tersebut menunjukkan bahwa dia merupakan
sosok ulama’ yang selain kaya akan dasar-dasar ilmu, wacana, pengetahuan, dia
juga jeli, lihai, selekstif, cermat, dan lihai memaparkan hadis,. Semua
kelebihan ini terlihat jelas dari apa yang telah dituangkan dalam karyanya.
Tidak banyak ulama yang mampu melakukan sebagaimana imam muslim. Semoga allah
memberika rahmatnya kepadanya.
Dalam kesempatan ini, aku (an-Nawawi) ingin
menyampaikan sepatah kalimat tentang kelebihan imam muslim. Aku berharap, apa
yang aku sampaikan ini dapat menunjukkan kelebihan –kelebihan imam muslim yang
lain. Kalimat yang aku maksudkan itu adalah, “ sesungguhnya manusia setelah
masa imam muslim tidak akan pernah tahu kelebihan –kelebihan yang dimiliki imam
muslim dalam bgidang hadis kecuali ia melihat san memperhatikan secara seksama
kitab karyanya.
Dari kitab shohih muslim tersebut, manusia akan
mengetahui bahwa betapa ahli, dalam ilmunya dan betapa banyak disiplin ilmu
yang telah di kuasai imam muslim sehingga mampu menelurkank sebuauh karya
seperti ini.
Yang jelas, untuk mkenelurkan karya seperti ini
dituntut penguasaan berbagai pengetahuan mulai dari fiqih, dan ilmu ushulnya,
bahsa aerab, nama para perawi hadis berikut sejarahnya, ilat pada sanad, dan
ilat pada matan hadis dan lain-lain.
Dengan karyanya tersebut, dapat diketahui bahwa
imam muslim adalah seorang yang kreatif, tajam, dan cemerlang pemikirannya.
Disisi lain, dia juga sering bersinggungan dengan para penulis yang lain dan
berdiskusi dengan mereka.
Diantara sikap selektifnya adalah membedakan
antara haddatsana dan akhbarana ketika meriwayatkanb atau memperoleh hadis dari
syaikhnya. Dan ini merupakan madzab imam muslim. Baginya, sesungguhnya
haddatsana tidak boleh digunakan kecuali seorang telah mendengarkan hadis dari
syaikh secara sendirian. Sedangkan, akhbarana apabila seorang perawi membacakan
hadis kepada syaikh. Perbedaan penggunaan ini merupakan madzhab imam syafi’I
dan mayoritas ulama’ dibelahan bagian timur.
Imam muslim juga membedakan istilah yang
digunakan perawi hadis dari haddatsaba fulan wa fulanwa al-lafadz li fulan
(fulan dan fulan memberikan hadis kepada kami dan lafal hadis ini menurut
riwayat fulan pertama), qala (ia –satu orang- berkata ) dan qalaa (mereka
berdua berkata).
Dia juga menhjelaskan ketiak terjadi perbedaan
huruf dalam matan hadis, nama perawi atau nasabnya dan sejenisnya. Yang
demikian itu karena terkadang perbedaan itu dapat merubah makna, terkadang
maknanya berbeda dan terkadang juga tidak berpengaruh terhadap makna.
Yang jelas, penjelasan perbedaan ini sifsatnya
tersamar yang hanya diketahui oleh ulam yang mahir dan menguasai hadis secara
dalam. Perbedaan-perbedaan ini telah aku sampaikan di depan, tepatnya dalam
al-fashl ( bagian) pertama ketika mengungkap kandungan fikih hadis yang
tersembunyi berikut pandangan madzhab-madzhab ulama fikih terhadap hadis
tersebut.
Imam muslim jugas mengkritisi dan menjelaskan
riwayat perawi dari shahifah atau loembaran. Semisal hadis riwayat Hammam bin
Munabbiih dari Abu Hurairoh. Yang demikian itu, seperti perkataan perawi,
“Muhammad bi Rafi’ telah memberikan hadis kepada kami, dia berkata, “
abdurrozaq telah memberikan hadis kepada kami, ia berkata, “ Ma’mar telah
memberikan hadis kepada kami dari Hammam, dia berkata, “ dengan ini lah abu
hurairoh trelah memberikan hadis kepada kami dari Muhammad Rosulullah SAW.dalam
lembaran itu terdapat hadis yang berbunyi,
“apabila kalian hendak melakukan wudhu, maka
beristintsaqlah (memasukkan air kedalam hidung).”
Imam muslim juga memberikan penjelasan mengenai
perawi hadis, misalnya adalah perkataan perawi, “Abdullah namanya maslamah
telah memberikan hadis kepada kami, ia berkata, “sulaiman -ibnu BIlal- telah
memberikan kepada kami dari yahya ibnu said.” Dalam hal ini, imam muslim tidak
serta merta langsung berkata , “ sulaiman bin bilal dari yahya n\bin said”
karena ketika imam muslim menerima dari syaikhnya, nama-nama tersebut tidak di
nisbatkan kepada ayahnya. Kalau syaikh meriwayatkan kepada imam musllim dengan
nama perawi di nisbatkan kepada ayahnya, maka ia akan menyampaikan dengan
nisbatnya sebagaimana dia menerimanya.
Imam muslim juga sangat berhati-hati dan jeli
ketika mengumpulkan jalur-jalur periwayatan hadis. Oleh karena itu, redaksi
kitabnmya sangat bagus karena singkat, padat, ramping, dan jelas. Penempatan
hadis-hadis dengan rapi, tersusun berdasarkan maknanya menunjukkan bahwa ilmu
pelakunya sangat dalam. Hal itu hanya dilakukan ketika pelakunya menguasai
makna kitab hadis , dasar-dasar suatu kaidah, rahasia-rahasia ilmu sanad, tingkatan
para perawi dan lain sebagainya.[4]
Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal
24 Rajab 261 H
III. Analisis/Pendapat
Imam Muslim memiliki karisma dimana
dia memiliki suatu kelebihan tentang analisis hadis seperti guru beliau. Imam
Bukhori mengajarkan beliau tentnag pengumpulan hadis yang harus menggunakank
metode yang lebih kritis dan lebih efisien. Dari sinilah membuat imam bukhori
dan Imam muslim menjadi sangat popular hingga zaman sekarang.
Setiap hadis yang beliau cantumkan dalam
kitabnya adlaah hadis-hadis yang memiliki kadar shohih yang jelas dan
terpercaya. Karena dari banyak hadis yang belaiu hafal hanya sebagaian yang
beliau tulis. Ini membuktikan bahwa pengumpulan hadis harus di lakukan dengna
metode yang sangat teliti, tegas, dan kritis.
IV. Penutup
Demikian pemaparan yang dapat penulis sampaikan
sebagai bahan ulangan mid semester gasal. Penulis menyadari atas segala
kekurangan yang dimiliki. Mohon untuk dijadikan pertimbangan. Semoga apa yang
penulis sampaikan dapat bermanfaat bagi umat.
BIOGRAFI TOKO PENDIDIKAN ISLAM
Reviewed by BAKOEL DESAIN
on
4:34 AM
Rating:
Reviewed by BAKOEL DESAIN
on
4:34 AM
Rating:

No comments: